Simply Simple

same old brand new blog

Antara Saxophone dan Harpa (Juga Gamelan)

Sewaktu membaca publikasi konser "The Classical Evening", saya kira konser akan dibagi ke dua sesi terpisah. Sesi pertama diisi oleh permainan harpa dari Lavinia Meijer, dan sesi kedua diisi oleh permainan dari Aurelia Saxophone Quartet. Mungkin, dalam perkiraan saya, Lavinia Meijer dan Aurelia Saxophone Kwartet akan memainkan satu instrumen bersamaan, tapi hanya untuk beberapa lagu saja.

Ternyata saya salah. Sebagian besar komposisi yang dipertunjukkan dalam konser yang digelar Selasa (18/05) lalu dimainkan oleh Lavinia Meijer bersama dengan Aurelia Saxophone Quartet. Hanya 2-3 komposisi yang dimainkan sendiri-sendiri, baik oleh Lavinia Meijer maupun Aurelia Saxophone Kwartet. Menurut saya, ini perpaduan yang cukup unik. Bayangkan suara kwartet saxophone berduet dengan harpa. Bagi saya sedikit terdengar 'kurang nyambung'. Pun aransemennya menurut saya juga kurang 'ear catching'.


Tapi saya tetap terpukau dengan permainan mereka saat mereka bermain sendiri-sendiri. Permainan Aurelia Saxophone Quartet, saat tidak berduet dengan Lavinia Meijer, terasa sangat hidup. Saya sampai bingung. Saya ingin memotret permainan mereka di atas panggung, tapi saya takut kalau saya berkonsentrasi memotret, saya jadi ketinggalan saat mendengar permainan mereka. Rasanya benar-benar hidup dan mengasyikkan. Entah kenapa, saya selalu merasa pemain saxophone punya karakter kepribadian yang humoris. Mereka tampak jenaka saat memainkan instrumennya di atas panggung. Jadi mungkin, kalau anda merasa sedang jenuh atau suntuk, cobalah belajar bermain saxophone. ;-)

Use

Permainan harpa Lavinia Meijer, saat tidak berduet dengan Aurelia Saxophone Quartet, tak kalah memukau. Apalagi, harpa bukanlah alat musik yang mudah ditemui. Saya juga salut melihat usaha Meijer untuk mengakrabkan penonton dengan harpa. Setelah istirahat pergantian sesi, Meijer menyempatkan diri untuk memberikan tutorial singkat mengenai bagaimana memainkan harpa. Ia pun mengajak salah seorang penonton untuk naik ke panggung dan mencoba bermain harpa. Saya baru tahu kalau harpa itu ternyata punya pedal seperti piano. Tidak tanggung-tanggung, ada tujuh pedal pada sebuah harpa. Jika dianalogikan dengan piano, harpa tidak mempunyai tuts hitam yang ada pada piano. Semua senar mempunyai bunyi seperti tuts putih pada piano. Nah, pedal inilah yang membantu pemain harpa untuk dapat memainkan nada-nada di tuts hitam tersebut.

Use_this

Seusai konser, Meijer juga masih menyempatkan diri untuk kembali bercerita tentang harpa. Saya ikut bergabung dengan beberapa penonton lain yang mengelilingi Meijer dan harpanya di atas panggung. Dengan sangat ramah, Meijer memperlihatkan pada kami beberapa bagian harpa. Saat pedal diinjak, terlihat di bagian atas harpa terdapat beberapa 'klep' yang seakan menjepit senar. Ini membuat senar memproduksi suara yang lebih tinggi. Logikanya, sama seperti suatu alat (yang saya lupa namanya) yang sering dipasang di fret gitar, untuk membuat senar gitar menghasilkan nada yang lebih tinggi.
Reaksi saya melihat mekanisme pedal harpa ini sama seperti reaksi saya ketika pertama kali melihat flute, sekitar tujuh tahun yang lalu: "Wow. Pasti pembuat instrumen ini jago banget fisika."

Saya selalu berpikir instrumen musik mencerminkan sejarah kecerdasan suatu bangsa. Coba bayangkan bagaimana orang dulu bisa menciptakan saxophone, gitar, atau biola. Bahkan piano, konon katanya, merupakan salah satu inovasi dari harpa. Orang-orang dulu, yang capek membawa harpa kemana-mana, akhirnya meletakkan harpa tersebut dalam posisi tidur, dan mengembangkannya menjadi piano. Tapi saya tidak tahu cerita ini benar atau tidak.

Oh ya, sebagai orang Indonesia, kita juga harus bangga dengan gamelan dan alat-alat musik tradisional lain. Coba tengok saja berbagai instrumen dalam gamelan. Dari kendang, bonang, saron, demung, gambang, slenthem, sampai gong, masing-masing punya karakter suara masing-masing yang ketika dibunyikan secara bersamaan terdengar sangat harmonis. Karena itu saya juga harus bilang, "Wow. Betapa cerdasnya nenek moyang kita yang menciptakan gamelan." :-)

 

Photos taken by Adhi

Posted

Trying posterous

wow.
Posted